Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Petrichor

Petrichor - Hallo sahabat Blog Serba-Serbi, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Petrichor, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Puisi, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Petrichor
link : Petrichor

Baca juga


Petrichor

Apa kau tahu, Ayuthia Razzak? Aku pikir memoar di kepalaku semacam petrichor yang selalu engkau bicarakan itu. Ialah aroma tanah sehabis hujan turun merebah. Aku selalu menghirupnya dengan penuh hasrat akanmu. Sehingga aromanya menjelma engkau—sebab segala sesuatu yang kutemu hanyalah engkau semata. Ketika hujan aku membacanya sebagai puisi-puisi yang ditaburkan oleh Tuhan. Ketika hujan itu menempias, begitu pula ingatanku menyuguhkan nuansa hening di dalam jiwaku. Hujan dan petrichor selalu saja membawaku kepadamu. Tak henti-henti. Aku hanya pasrah dalam buaian-Nya. Engkau adalah jiwaku dan aku semogalah menjadi cahaya yang bisa menerangimu. Kekasih, demikianlah hujan dan petrichor mencumbuku. Mengecupi setiap jengkal pikiranku. Kekasih, adakah hujan dan petrichor di mata kita? Ataukah Tuhan sedang menangisi nasib kita semua, ummat manusia.



Demikianlah Artikel Petrichor

Sekianlah artikel Petrichor kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Petrichor dengan alamat link https://www.bitchville.me/2020/09/petrichor.html

Posting Komentar untuk "Petrichor"