Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Martabat Tukang Parkir

Martabat Tukang Parkir - Hallo sahabat Blog Serba-Serbi, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Martabat Tukang Parkir, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Esai, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Martabat Tukang Parkir
link : Martabat Tukang Parkir

Baca juga


Martabat Tukang Parkir

Pada era pandemi sekarang ini, banyak di antara kita yang sudah tidak lagi menghiraukan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Seakan ketika pandemi ini terjadi maka nilai-nilai luhur itu menjadi sesuatu yang tidak penting. Banyaknya perampokan dan penjarahan rumah-rumah kosong ketika malam hari menengarai hal tersebut. Ditambah lagi ulah para narapidana yang dibebaskan kemudian melakukan aksi kejahatannya kembali. Pandemi menjadi suatu kesempatan bagi sebagian orang untuk merugikan lingkungannya. Akan tetapi, ada juga orang-orang yang tetap memperjuangkan kewajaran hidup dan kemanusiaan di tengah pandemi ini.
Alkisah, pada suatu hari saya berangkat dari rumah ke Yogyakarta untuk suatu keperluan. Hari itu saya hendak mengambil afdruk foto pesanan saya di Calista Photo Studio di Yogyakarta. Siang itu cuaca begitu terik. Matahari bersinar terang. Saya yang memakai busana serba hitam pun akhirnya mengalami perubahan suhu tubuh yang sangat drastis—warna hitam menyerap panas dengan baik.
Sesampainya di lokasi, saya langsung memarkirkan sepeda motor, mencuci tangan dengan sabun—sesuai protokol kesehatan yang berlaku, dan melakukan pengecekan suhu tubuh. Petugas yang berjaga di depan pintu mengecek suhu tubuh saya dan mendapati bahwa suhu tubuh saya berada di atas 36 derajat Celcius. Petugas itu pun menatap saya sambil tersenyum, agak tertawa.
"40-an, Mas. Ini karena kepanasan di jalan tadi ya?"
"Ya begitulah, Pak." Kata saya sambil meringis.
"Ya sudah, silakan masuk."
Saya memasuki ruangan studio, menuju ke meja pemesanan, mengambil afdruk foto, dan memeriksanya. Sesudah semuanya beres, saya pun beranjak keluar dari ruangan studio menuju ke tempat parkir. Di sana sudah ada seorang tukang parkir yang menghampiri saya, hendak mengeluarkan sepeda motor saya dari tempat parkir. Saya pun segera merogoh kocek dan mengambil uang dua ribu rupiah untuk diberikan kepada tukang parkir tersebut sebagai ongkos jasa parkirnya. Tukang parkir itu menerima uang saya dan dia terlihat merogoh koceknya, hendak memberikan uang kembalian.
"Sudah, Mas, nggak apa-apa." Kata saya sambil menahannya memberikan uang kembalian.
"Enggak, Mas, ini ada kok uang kembaliannya. Nanti bisa-bisa keenakan lagi tukang parkirnya." Katanya sambil menyodorkan uang seribu rupiah kepada saya dan disertai humor yang ramah.
"Oke, Mas, terima kasih."
"Sama-sama, Mas."
Dari kejauhan, saya masih memperhatikan si tukang parkir. Hari itu saya belajar kembali tentang pentingnya menjunjung martabat di dalam kehidupan, di manapun dan kapanpun, berapa kalipun. Saya juga bersyukur bahwa dia masih berbaik hati kepada saya. Bayangkan saja kalau dia marah, lalu berkata kepada saya, "Den! Saya ini bekerja, Den! Bukan ngemis!"


Demikianlah Artikel Martabat Tukang Parkir

Sekianlah artikel Martabat Tukang Parkir kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Martabat Tukang Parkir dengan alamat link https://www.bitchville.me/2020/09/martabat-tukang-parkir.html

Posting Komentar untuk "Martabat Tukang Parkir"