Review Film #Teman Tapi Menikah 2 (2020)


CUAP-CUAP “#TemanTapiMenikah 2”
#UlasanTanpaBocoran
📍 Transmart Ngagel XXI
📅⏰ Senin, 2 Maret 2020, 14.45 WIB

“#TemanTapiMenikah 2” adalah satu dari jarang sekali sekuel yang lebih baik dari pendahulunya. Setelah beberapa judul yang tidak bersubstansi baik, Falcon akhirnya mengeluarkan juga sebuah film yang tidak hanya mengerti posisinya sebagai sebuah sekuel, namun memiliki alasan untuk hadir menjadi sebuah kisah-kasih yang manis, hangat, dan bermakna, bukan menjadi satu lagi fiksi kasmaran remaja klise biasa.

Kelanjutan kehidupan romansa Ditto Percusion dan Ayudia Bing Slamet sebagai sepasang teman hidup kelihatannya sudah berakhir indah ketika mereka menikah di akhir film pertama. Namun rupanya, Rako Prijanto yang kembali sebagai sutradara masih bisa meneruskan perjalanan cinta pasangan sejoli ini ke babak baru yang lebih menggugah.

Dari persahabatan 14 tahun yang dirangkum dalam 1 jam 40 menit durasi instalmen pertama, kini Ditto-Ayu mengarungi bahtera rumah tangga, siap tidak siap menerjang ombak yang akan menghadang arungan kehidupan mereka kedepannya. Di sini memang tidak ada lagi kehadiran karakter-karakter lain yang mengganjal hubungan keduanya; justru, segala konflik berasal dari mereka sendiri sebagai calon orangtua muda.

Rako menyisihkan segala ‘menye-menye’ yang menghiasi jalinan kisah pasangan ini ketika masih remaja di film pertama, menggantinya dengan percikan-percikan emosi sebagai dampak Ayu yang sedang mengandung dan posisi Ditto sebagai suami baru yang bisa dibilang belum cukup perhatian.

Plot “#TemanTapiMenikah 2” yang simpel memiliki kekuatan tersendiri. Mengingatkan pada “Dua Garis Biru” tahun lalu (yang mana adalah salah satu film Indonesia terbaik 2019), “#TemanTapiMenikah 2” mengajarkan secara membumi nan niskala lika-liku pascapernikahan tanpa bermaksud menceramahi. Kita butuh lebih banyak film seperti ini untuk semakin membuka pandangan masyarakat akan tema mendalam yang diusung tersebut.

Dalam naskah yang ditulis penuh rasa, Rako menyisipkan dialog-dialog kekanak-kanakan yang begitu natural sekaligus ‘relatable’ sebagai penanda kelanjutan hubungan mereka berdua dari sahabat sedari SMP — tidak melulu menjadikan “#TemanTapiMenikah 2” tampil muluk-muluk dalam keseriusan. Dari interaksi tersebutlah, terpicu tawa segar penonton di banyak momen.

Aspek komedi tidak bisa lepas dari andil Adipati Dolken (Love for Sale 2) yang memang basisnya adalah seorang yang ‘slengekan’. Berceloteh dan bersikap jahil terhadap istri seolah bukan dari skrip menunjukkan kualitas akting Adipati yang kian mumpuni. “#TemanTapiMenikah 2” juga menjadi ajang pembuktian Adipati sebagai seorang aktor yang hebat dipasangkan dengan lawan main siapa saja.

Digantinya pemeran deuteragonis dari Vanesha Prescilla ke Mawar Eva de Jongh (Bumi Manusia) tidak menjadi kendala bagi keduanya. Bahkan, kehadiran Mawar di sini tanpa bermaksud membandingkan, jauh lebih baik ketimbang penampilan pendahulunya. Mawar memberikan sentuhan ‘tomboy’ sekaligus kerapuhan tersendiri dalam diri seorang Ayu yang terperangkap segala dilema kehamilan.

Mawar yang secara total ekspresif (ingat adegan Annelies berteriak ketika mendapati ayahnya mati dalam “Bumi Manusia”?) namun tidak berlebihan turut mengangkat kadar emosional film ini ke level yang tidak bisa digapai oleh “#TemanTapiMenikah” pertama. Pencapaian luar biasa oleh seorang aktris yang baru membintangi tiga judul layar lebar sekaligus mengemban berat beban sebagai aktor yang menggantikan pemeran aslinya.

Mawar terbukti akan menjadi aktris bertalenta besar di masa mendatang tanpa hanya bermodalkan paras molek. Semoga kedepannya ia bisa selektif dalam menentukan peran yang lebih kompleks dan bervariasi guna mengungkap potensinya bermain watak secara maksimal.

Kolaborasinya bersama Adipati mengalur dalam kelembutan, kegemasan, sekaligus ketegasan tersendiri yang membuat pasangan ini berbeda dari kebanyakan pasangan dalam film drama-romantis Indonesia lainnya. Kemistri yang terjaga stabil, bahkan meningkat hingga penghujung durasi memberikan kedalaman spesial di antara mereka, bahkan bagi film ini sendiri.

Rako sebagai seorang sutradara bervisi artistik tidak hanya membuat “#TemanTapiMenikah 2” indah menyelap ke dalam sanubari, tapi turut menawan dipandang. Permainan kamera dalam nada warna film yang hangat dipadukan latar tempat di Resor Kamandalu yang cantiknya tiada tara menambah keestetikan film ini hingga terlalu elok untuk dilewatkan barang sekejap mata.

Segala kehalusan dalam film ini juga berisiko membuai penonton dalam kantuk — terutama dalam beberapa adegan yang berjalan terlalu lambat di antara kedua protagonisnya. Walaupun begitu, Rako dengan cermat menyuntikkan banyak (YA, BANYAK!) momen pengucur air mata guna melipur beberapa kejemuan yang berjangkit di sepanjang durasi.

Kita semua tahu tipikal film seperti ini pasti punya klimaks yang akan mengguncang batin (entah dengan medium cerita mana yang dimanfaatkan oleh sang sineas). Namun Rako secara brilian menyematkan titik-titik emosional sejak cukup awal, terus hingga tiba bagian pamungkas cerita yang akan membuat setiap pria dan wanita terisak; meninggalkan wajah penonton sembab akibat guyuran air mata saat terjamah lampu studio yang menyala.

Menyaksikan sebuah film yang membahagiakan sekaligus mengharukan meninggalkan perasaan baik tersendiri dalam diri penonton adalah salah satu dari pengalaman sinematik yang tidak selalu bisa ditemui. “#TemanTapiMenikah 2” — yang didukung oleh deretan lagu tema perangsang ‘mood’ yang apik, adalah salah satu film yang berhasil memberikan pengalaman indah tersebut.

Skor total: 8.8/10

#TemanTapiMenikah2
#TTM2
#TemanTapiMenikah

#CuapCuapEizan
#Zan

Belum ada Komentar untuk "Review Film #Teman Tapi Menikah 2 (2020)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel